Minggu, 02 Juni 2013

New!

"Ngeselin banget, sih!" omel Kartika.
"Kenapa, Kar?" tanya Alin bingung. 
"Tuh, Vina. Siapa lagi coba?" Kartika melirik Vina sebal.
"Hihihi... Kamu seperti anjing dan kucing saja kalau sama Vina." tawa Alin.
"Kamu nggak ngerti persoalannya, sih!" gerutu Kartika.
"Menurutku, Vina itu cantik, baik, dan nggak sombong. Tidak seperti Viona dan Rachel, mentang-mentang anak kota, sombongnya selangit!" jelas Alin.
"Vina itu sama saja dengan Viona dan Rachel!" rutuk Kartika.
"Oh ya?" Alin tidak percaya.
"Ya. Masa, setiap hari dia bawa barang-barang mewah! Dia kira ini cafe atau pameran? Ini sekolah, Lin! Bedakan itu!" amarah Kartika menjadi lebay.
"Nggak, kok. Vina hanya membawa seperlunya. Dia membawa tempat minum bagus karena dia nggak bisa pakai yang murahan, alergi. Dia pakai anting karena itu sudah tradisi keluarganya. Bukunya bersampul dan bagus, itu karena ia mampu merawatnya. Semuanay wajar." jelas Alin.
"Oh...., sekarang kamu sahabatan ya sama si sombong itu? Pakai bela-belain segala!" tatapan mata Kartika menjadi curiga. 
"Jangan su'udzon dulu dong, Kar. Aku kan, sahabat kamu, sahabat semuanya. Lagi pula, kalau Vina sahabat aku, masalah? Semua sahabatku, dan nggak ada yang boleh mengatur hidupku! Ada disebuah blog persahabatan yang mendukung kemauanku itu!" jelas Alin panjang lebar."
"Terserah deh, Lin. Aku kecewa sama kamu!" Kartika pergi meninggalkan Alin dengan wajah sedih, ia menangis sejadi-jadinya. Teriakannya tadi membuat hampir seluruh anak-anak memperhatikan mereka.
"Maafkan aku, Kar. Tapi, ini adalah pendapatku. Semoga kamu dapat belajar untuk tidak egois." gumam Alin, ia mengayunkan langkahnya menuju kantin

~***~

"Hiks...Hiks...Hiks..." terdengar suara tangis saat Alin masuk kekelas V-B.
"Kartika..." desah Alin.
"Kamu mau minta maaf, kan?" tebak Kartika.
"Aku tak akan memaafkanmu sebelum kamu membenci Vina."
"Bukan. Aku bukan mau minta maaf. Aku hanya mau izin pindah bangku, ya. Aku nggak mau sebangku sama kamu lagi." putus Alin.
"Apa?! Setelah kamu sakiti aku, kamu mau tinggalin gitu aja? Katanya kamu sahabat aku, tapi, kenapa kamu nggak kompak sama aku? Apa gara-gara Vina?" Kartika berhenti menangis dan menatap Alin tak percaya.
"Tidak, tidak, tidak. Maafkan aku." Alin mengambil tasnya dan memindahkannya kesamping tas Vina, karena kebetulan bangkunya kosong.
"Kamu tega, Lin. Aku benci kamu!" Kartika keluar dari kelas, ia membanting pintu dan tampaknya membuat Olivia, sang ketua kelas marah.
"Bagaimana ini? Kalau pintu kelas rusak, kita nggak akan jadi kelas teladan tahun ini! Padahal tinggal sedikit lagi! Awas aja tuh Kartika! Kalau balik akan aku jewer dia! Seenaknya aja dia ngerusak rencana aku semenjak awal January! Dan aku...." Alin sepertinya bosan mendengar ocehan Olivia yang nggak henti-hentinya.

Olivia adalah master di kelas. Ia ketua kelas dari kelas satu hingga sekarang, kelas lima. Olivia anak teladan selama 5X berturut-turut. Walaupun ia cerewet, namun guru-guru suka dengan sifatnya yang bertanggung jawab dan tidak egois. Alin sebenarnya adalah fans rahasia Olivia.

"Eh, Alin. Kenapa kusut banget? Belum disetrika, ya?" sapa... Vina!
"Eh, Vin. Ya, belum disetrika. Tadi pagi listrik padam." candaku, namun, wajah Alin tetap kusut.
"Serius, deh. Kenapa?" tanya Vina penasaran.
"Aku...." Alin menceritakan semuanya pada Vina.
"Oh, soal itu. First, aku minta maaf, gara-gara aku, kalian bertengkar. Dan, besok akan kita selesaikan. Oke?" janji Vina.
"Beres, bos!" jawab Alin. Vina dan Alin tertawa.

Diam-diam, Kartika mengawasi Alin dan Vina. Kartika sebal dengan keakraban sahabatnya itu dengan Vina. Kartika mempunyai rencana jahat untuk membuat Vina keluar dari sekolah ini. Waduh...

~***~


Tidak ada komentar:

Posting Komentar