Rabu, 05 Juni 2013

Jadul Sekali

Namaku Jadul. Nggak tahu kenapa, ibu memberiku nama begitu. Aku sering diejek teman-teman karena namaku nggak nyambung dan kampungan. Namun, aku berusaha sabar, hingga ibuku meninggal beberapa jam yang lalu. Aku sudah tidak bisa sabar. Harapanku pupus untuk mengetahui arti namaku. Aku tidak mementingkan ibuku, beliau tidak pernah menyayangiku seperti ibu-ibu yang lainnya. Ibuku galak, mungkin, ia dendam denganku dan memberiku nama sekenanya.

"Jadul Sekali, maju kedepan!" seru guru Bahasa Indonesiaku, nama panjangku adalah Jadul Sekali.
"Huuu....  huuu...." ejek teman-teman, mereka selalu begitu setiap mendengar namaku.
"Eh, umm..." aku mulai kurang Pede begitu diejek oleh teman-teman.
"Saya akan membawakan karangan saya mengenai 'Sepuluh Abad Kemudian'." aku mulai berani.
"Kita sekarang hidup diabad ke-12, kita tak tahu apa-apa, sekolah ini hanyalah begini-begini saja. Apakah kalian pernah berpikir mengenai massa yang akan datang? Misalnya sepuluh tahun kemudian?" tanyaku memulai hasil kerjaku. Semua anak terdiam, aku jadi leluasa berbicara.
"Mungkin akan ada benda yang menyerupai manusia yang dapat membantu kita... Atau akan ada perahu besar yang melayang diangkasa. Apakah kita terpikir oleh itu?" tanyaku sekali lagi, semua menggeleng kompak.
"Kalau begitu, mari kita pikirkan bersama. Kita hidup di abad ke-12, hanya sekolah inilah satu-satunya harapan dunia. Tak ada yang mengetahui kaum kita, kaum vampire. Kaum vampire adalah kaum yang abadi dan hanya bisa mati oleh api. Kita harusnya bersyukur, karena kita dapat merasakan masa lalu dan masa yang akan datang dengan sekali hidup." lanjutku. Semua tercengang dengan apa yang kukatakan.
"Sepuluh abad kemudian mungkin sudah ada beribu-ribu bahasa didunia ini. Tidak seperti sekarang yang hanya ada satu bahasa. Manusia masih pada zaman purba! Kurang pendidikan dan tata krama!" semangatku menggebu. Semua terdiam, mungkin berusaha mencerna hasil kerjaku itu.
"Maka dari itu, marilah kita membangun beradaban dunia! Hingga suatu saat nanti, namaku akan dikenal orang sebagai nama bersejarah! Nama yang dianggap mereka kampungan namun bersejarah. Sekian dan.... argh..." aku memegangi dadaku.
"Jaduuuul...." teman-teman mengerumuniku, guruku juga panik.

Tak lama, nyawaku diambil. Ternyata, hanya akulah bangsa vampire yang mati bukan karena api, namaku dikenang, seperti yang kumau.
Sepuluh abad kemudian, orang-orang sering menyebut namaku. Aku dapat melihatnya dari atas sini. Semua menyebut namaku dengan sikap melecehkan, sesuai yang kusebut. Walau agak menyesal karena dulu aku mengharapkan namaku disebut dengan penuh pelecehan, namun, aku bersyukur. Ucapanku terwujud. Namaku disanjung oleh semua bangsa vampire yang kini menjadi musuh manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar