Senin, 24 Juni 2013
Rabu, 05 Juni 2013
Jadul Sekali
Namaku Jadul. Nggak tahu kenapa, ibu memberiku nama begitu. Aku sering diejek teman-teman karena namaku nggak nyambung dan kampungan. Namun, aku berusaha sabar, hingga ibuku meninggal beberapa jam yang lalu. Aku sudah tidak bisa sabar. Harapanku pupus untuk mengetahui arti namaku. Aku tidak mementingkan ibuku, beliau tidak pernah menyayangiku seperti ibu-ibu yang lainnya. Ibuku galak, mungkin, ia dendam denganku dan memberiku nama sekenanya.
"Jadul Sekali, maju kedepan!" seru guru Bahasa Indonesiaku, nama panjangku adalah Jadul Sekali.
"Huuu.... huuu...." ejek teman-teman, mereka selalu begitu setiap mendengar namaku.
"Eh, umm..." aku mulai kurang Pede begitu diejek oleh teman-teman.
"Saya akan membawakan karangan saya mengenai 'Sepuluh Abad Kemudian'." aku mulai berani.
"Kita sekarang hidup diabad ke-12, kita tak tahu apa-apa, sekolah ini hanyalah begini-begini saja. Apakah kalian pernah berpikir mengenai massa yang akan datang? Misalnya sepuluh tahun kemudian?" tanyaku memulai hasil kerjaku. Semua anak terdiam, aku jadi leluasa berbicara.
"Mungkin akan ada benda yang menyerupai manusia yang dapat membantu kita... Atau akan ada perahu besar yang melayang diangkasa. Apakah kita terpikir oleh itu?" tanyaku sekali lagi, semua menggeleng kompak.
"Kalau begitu, mari kita pikirkan bersama. Kita hidup di abad ke-12, hanya sekolah inilah satu-satunya harapan dunia. Tak ada yang mengetahui kaum kita, kaum vampire. Kaum vampire adalah kaum yang abadi dan hanya bisa mati oleh api. Kita harusnya bersyukur, karena kita dapat merasakan masa lalu dan masa yang akan datang dengan sekali hidup." lanjutku. Semua tercengang dengan apa yang kukatakan.
"Sepuluh abad kemudian mungkin sudah ada beribu-ribu bahasa didunia ini. Tidak seperti sekarang yang hanya ada satu bahasa. Manusia masih pada zaman purba! Kurang pendidikan dan tata krama!" semangatku menggebu. Semua terdiam, mungkin berusaha mencerna hasil kerjaku itu.
"Maka dari itu, marilah kita membangun beradaban dunia! Hingga suatu saat nanti, namaku akan dikenal orang sebagai nama bersejarah! Nama yang dianggap mereka kampungan namun bersejarah. Sekian dan.... argh..." aku memegangi dadaku.
"Jaduuuul...." teman-teman mengerumuniku, guruku juga panik.
Tak lama, nyawaku diambil. Ternyata, hanya akulah bangsa vampire yang mati bukan karena api, namaku dikenang, seperti yang kumau.
Sepuluh abad kemudian, orang-orang sering menyebut namaku. Aku dapat melihatnya dari atas sini. Semua menyebut namaku dengan sikap melecehkan, sesuai yang kusebut. Walau agak menyesal karena dulu aku mengharapkan namaku disebut dengan penuh pelecehan, namun, aku bersyukur. Ucapanku terwujud. Namaku disanjung oleh semua bangsa vampire yang kini menjadi musuh manusia.
Minggu, 02 Juni 2013
Chintya's Birthday Cake
Besok aku Ulang Tahun. Oh ya, namaku Chintya Prabowo, putri dari Papa Prabowo. Aku berumur 9 tahun besok, mangkanya, aku senaaaang.... sekali! Wow deh, aku membayangkan Ultahku yang kata Papa lebih meriah dari kemarin. Dilengkapi dengan lima badut, wow!
"Kak Cindy, datang ya ke Ultahku besok?" undangku.
"Apaan sih? Memangnya kamu adikku, ya?" lirik Kak Cindy sebal.
Aku adalah anak pungut. Aku sedih akan hal itu. Walau begitu, Papa dan Mama angkatku menyayangiku, seperti mereka menyayangi Kak Cindy.
"Ingat, ya! Kamu bukan siapa-siapa di keluarga ini! Jadi, jangan belagu, oke?" Kak Cindy meninggalkanku.
"I-iya." hatiku sakit mendengar perkataan Kak Cindy.
"Sudahlah, Chintya. Kamu anak Mama juga." hibur Mama.
"Tapi, Kak Cindy benar, Ma. Chintya kan, anak pungut. Jadi, sepertinya pesta besok tidak perlu diadakan saja...." ratapku.
"Shhttt.... Jangan bicara seperti itu, sayang. Ayo tidur siang saja, yuk." Mama menggandengku menuju kamar.
"Kak Cindy, datang ya ke Ultahku besok?" undangku.
"Apaan sih? Memangnya kamu adikku, ya?" lirik Kak Cindy sebal.
Aku adalah anak pungut. Aku sedih akan hal itu. Walau begitu, Papa dan Mama angkatku menyayangiku, seperti mereka menyayangi Kak Cindy.
"Ingat, ya! Kamu bukan siapa-siapa di keluarga ini! Jadi, jangan belagu, oke?" Kak Cindy meninggalkanku.
"I-iya." hatiku sakit mendengar perkataan Kak Cindy.
"Sudahlah, Chintya. Kamu anak Mama juga." hibur Mama.
"Tapi, Kak Cindy benar, Ma. Chintya kan, anak pungut. Jadi, sepertinya pesta besok tidak perlu diadakan saja...." ratapku.
"Shhttt.... Jangan bicara seperti itu, sayang. Ayo tidur siang saja, yuk." Mama menggandengku menuju kamar.
~***~
Kesokannya...
"Happy birthday Chintya.... Happy birthday Chintya... Happy birthday, Happy birthday. Happy birthday Chintya. Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga. Sekarang juga, sekarang juga...." wusshhh.... aku meniup lilinku yang berjumlah 9 itu.
"Yeeeee....." sorak hadirin, hatiku sangat gembira.
"Chintya sayang, kue pertamanya untuk siapa?" tanya Papa.
"Untuk..." aku celingukan. Aku mencari sesosok manusia yang kuincar.
"Buat Chintya sendiri boleh?" tanyaku.
"Wah, sebenarnya jangan. Tapi, nggak apa-apa, deh." desah Mama.
"Ayo potong kuenya, sayang."
Saat aku memotong kue, aku mendengar pintu dibuka. Kuhentikan pemotongan kuenya dan kuputuskan untuk melihat keadaan. Wah, ternyata orang yang kucari!
"Happy birthday my sister." peluk orang itu.
"Terimakasih, kak." jawabku berkaca-kaca.
"Kue pertama ini untuk kakak."
Tahukan kamu, siapa orang itu? Ia yang tidak lain adalah Kak Cindy. Kak Cindy rupanya juga menyayangiku. Ultahku yang ke-9 ini adalah Ultah paling indah yang kupunya. Walau bukan bersama keluargaku sendiri, namun, aku dikelilingi oleh orang-orang yang begitu menyayangiku.
~* Selesai *~
New!
"Ngeselin banget, sih!" omel Kartika.
"Kenapa, Kar?" tanya Alin bingung.
"Tuh, Vina. Siapa lagi coba?" Kartika melirik Vina sebal.
"Hihihi... Kamu seperti anjing dan kucing saja kalau sama Vina." tawa Alin.
"Kamu nggak ngerti persoalannya, sih!" gerutu Kartika.
"Menurutku, Vina itu cantik, baik, dan nggak sombong. Tidak seperti Viona dan Rachel, mentang-mentang anak kota, sombongnya selangit!" jelas Alin.
"Vina itu sama saja dengan Viona dan Rachel!" rutuk Kartika.
"Oh ya?" Alin tidak percaya.
"Ya. Masa, setiap hari dia bawa barang-barang mewah! Dia kira ini cafe atau pameran? Ini sekolah, Lin! Bedakan itu!" amarah Kartika menjadi lebay.
"Nggak, kok. Vina hanya membawa seperlunya. Dia membawa tempat minum bagus karena dia nggak bisa pakai yang murahan, alergi. Dia pakai anting karena itu sudah tradisi keluarganya. Bukunya bersampul dan bagus, itu karena ia mampu merawatnya. Semuanay wajar." jelas Alin.
"Oh...., sekarang kamu sahabatan ya sama si sombong itu? Pakai bela-belain segala!" tatapan mata Kartika menjadi curiga.
"Jangan su'udzon dulu dong, Kar. Aku kan, sahabat kamu, sahabat semuanya. Lagi pula, kalau Vina sahabat aku, masalah? Semua sahabatku, dan nggak ada yang boleh mengatur hidupku! Ada disebuah blog persahabatan yang mendukung kemauanku itu!" jelas Alin panjang lebar."
"Terserah deh, Lin. Aku kecewa sama kamu!" Kartika pergi meninggalkan Alin dengan wajah sedih, ia menangis sejadi-jadinya. Teriakannya tadi membuat hampir seluruh anak-anak memperhatikan mereka.
"Maafkan aku, Kar. Tapi, ini adalah pendapatku. Semoga kamu dapat belajar untuk tidak egois." gumam Alin, ia mengayunkan langkahnya menuju kantin
~***~
"Hiks...Hiks...Hiks..." terdengar suara tangis saat Alin masuk kekelas V-B.
"Kartika..." desah Alin.
"Kamu mau minta maaf, kan?" tebak Kartika.
"Aku tak akan memaafkanmu sebelum kamu membenci Vina."
"Bukan. Aku bukan mau minta maaf. Aku hanya mau izin pindah bangku, ya. Aku nggak mau sebangku sama kamu lagi." putus Alin.
"Apa?! Setelah kamu sakiti aku, kamu mau tinggalin gitu aja? Katanya kamu sahabat aku, tapi, kenapa kamu nggak kompak sama aku? Apa gara-gara Vina?" Kartika berhenti menangis dan menatap Alin tak percaya.
"Tidak, tidak, tidak. Maafkan aku." Alin mengambil tasnya dan memindahkannya kesamping tas Vina, karena kebetulan bangkunya kosong.
"Kamu tega, Lin. Aku benci kamu!" Kartika keluar dari kelas, ia membanting pintu dan tampaknya membuat Olivia, sang ketua kelas marah.
"Bagaimana ini? Kalau pintu kelas rusak, kita nggak akan jadi kelas teladan tahun ini! Padahal tinggal sedikit lagi! Awas aja tuh Kartika! Kalau balik akan aku jewer dia! Seenaknya aja dia ngerusak rencana aku semenjak awal January! Dan aku...." Alin sepertinya bosan mendengar ocehan Olivia yang nggak henti-hentinya.
Olivia adalah master di kelas. Ia ketua kelas dari kelas satu hingga sekarang, kelas lima. Olivia anak teladan selama 5X berturut-turut. Walaupun ia cerewet, namun guru-guru suka dengan sifatnya yang bertanggung jawab dan tidak egois. Alin sebenarnya adalah fans rahasia Olivia.
"Eh, Alin. Kenapa kusut banget? Belum disetrika, ya?" sapa... Vina!
"Eh, Vin. Ya, belum disetrika. Tadi pagi listrik padam." candaku, namun, wajah Alin tetap kusut.
"Serius, deh. Kenapa?" tanya Vina penasaran.
"Aku...." Alin menceritakan semuanya pada Vina.
"Oh, soal itu. First, aku minta maaf, gara-gara aku, kalian bertengkar. Dan, besok akan kita selesaikan. Oke?" janji Vina.
"Beres, bos!" jawab Alin. Vina dan Alin tertawa.
Diam-diam, Kartika mengawasi Alin dan Vina. Kartika sebal dengan keakraban sahabatnya itu dengan Vina. Kartika mempunyai rencana jahat untuk membuat Vina keluar dari sekolah ini. Waduh...
~***~
Langganan:
Komentar (Atom)
