"Kak Cindy, datang ya ke Ultahku besok?" undangku.
"Apaan sih? Memangnya kamu adikku, ya?" lirik Kak Cindy sebal.
Aku adalah anak pungut. Aku sedih akan hal itu. Walau begitu, Papa dan Mama angkatku menyayangiku, seperti mereka menyayangi Kak Cindy.
"Ingat, ya! Kamu bukan siapa-siapa di keluarga ini! Jadi, jangan belagu, oke?" Kak Cindy meninggalkanku.
"I-iya." hatiku sakit mendengar perkataan Kak Cindy.
"Sudahlah, Chintya. Kamu anak Mama juga." hibur Mama.
"Tapi, Kak Cindy benar, Ma. Chintya kan, anak pungut. Jadi, sepertinya pesta besok tidak perlu diadakan saja...." ratapku.
"Shhttt.... Jangan bicara seperti itu, sayang. Ayo tidur siang saja, yuk." Mama menggandengku menuju kamar.
~***~
Kesokannya...
"Happy birthday Chintya.... Happy birthday Chintya... Happy birthday, Happy birthday. Happy birthday Chintya. Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga. Sekarang juga, sekarang juga...." wusshhh.... aku meniup lilinku yang berjumlah 9 itu.
"Yeeeee....." sorak hadirin, hatiku sangat gembira.
"Chintya sayang, kue pertamanya untuk siapa?" tanya Papa.
"Untuk..." aku celingukan. Aku mencari sesosok manusia yang kuincar.
"Buat Chintya sendiri boleh?" tanyaku.
"Wah, sebenarnya jangan. Tapi, nggak apa-apa, deh." desah Mama.
"Ayo potong kuenya, sayang."
Saat aku memotong kue, aku mendengar pintu dibuka. Kuhentikan pemotongan kuenya dan kuputuskan untuk melihat keadaan. Wah, ternyata orang yang kucari!
"Happy birthday my sister." peluk orang itu.
"Terimakasih, kak." jawabku berkaca-kaca.
"Kue pertama ini untuk kakak."
Tahukan kamu, siapa orang itu? Ia yang tidak lain adalah Kak Cindy. Kak Cindy rupanya juga menyayangiku. Ultahku yang ke-9 ini adalah Ultah paling indah yang kupunya. Walau bukan bersama keluargaku sendiri, namun, aku dikelilingi oleh orang-orang yang begitu menyayangiku.
~* Selesai *~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar